Saat ini belum ada banyak penelitian yang mengukur bahaya asap rokok
di udara terbuka. Sebuah penelitian yang dilakukan Environmental Health
Perspectives baru-baru ini mencoba mencari tahu bahaya tersebut.
Para peneliti mengumpulkan data dari bar dan restoran outdoor
yang mengizinkan tamu-tamunya merokok. Hasilnya, kandungan zat kimia
terkait tembakau di tubuh orang-orang non-perokok yang mengunjungi
restoran semacam itu ternyata lebih tinggi dibanding orang-orang di area
bebas rokok.
Bulan Agustus dan September 2010, 18 mahasiswi dan 10 mahasiswa
University of Georgia berpartisipasi dalam penelitian lapangan yang
berlangsung selama tiga hari. Mereka duduk-duduk di patio
sebuah restoran keluarga yang mengizinkan tamunya merokok. Sebagai
pembanding, mereka juga duduk di area bebas rokok lain yang juga sebuah
teras terbuka.
Para sukarelawan itu sengaja memilih tempat duduk di dekat
orang-orang yang merokok. Setiap kunjungan berlangsung selama tiga jam
di malam hari. Seorang peserta menghitung jumlah rokok yang dinyalakan
setiap 10 menit. Para peneliti mengambil sampel air seni dan air ludah
dari setiap peserta sebanyak tiga kali: sebelum, sesaat setelah
kunjungan ke restoran itu, serta pagi hari berikutnya.
Terbukti bar dan restoran outdoor bebas rokok membawa resiko lebih tinggi bagi perokok pasif dibandingkan area bebas rokok biasa. Kadar senyawa cotinine,
sebuah produk samping nikotin, dalam ludah para responden tercatat
paling tinggi sesaat setelah mengunjungi bar terbuka. Di tempat ini
jumlah rokok yang dinyalakan empat kali lebih banyak dibanding di
restoran.
Selain itu, kadar NNAL-zat kimia yang ditemukan di tembakau-di urin
meningkat pada sampel yang diambil tepat sesudah kunjungan. Celakanya
kadar NNAL di pagi hari berikutnya, malah meningkat.
Patut dicatat bahwa penelitian itu tidak mengumpulkan atau
memperhitungkan data-data seperti suhu udara, kecepatan angin, serta
faktor lain yang dapat mempengaruhi paparan terhadap asap rokok di
tempat terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar