Selasa, 25 Desember 2012

Mengenal Kesenian Debus Asli Banten



Mengenal Kesenian Debus Asli Banten
ilmu Debus adalah suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain. Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang mungkin berkembang sejak abad ke 18. Namun, pernahkah orang bertanya-tanya darimana sebenarnya asal debus tersebut?
Debus merupakan kesenian asli masyarakat Banten yang diciptakan pada abad ke-16, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570), dalam rangka penyebaran agama Islam. Agama Islam diperkenalkan ke Banten oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri Kesultanan Cirebon, pada tahun 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan penaklukan Sunda Kelapa. Kemudian, ketika kekuasaan Banten dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Apalagi, di masa pemerintahannya tengah terjadi ketegangan dengan kaum pendatang dari Eropa, terutama para pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC. Kedatangan kaum kolonialis ini di satu sisi membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata, yaitu terjadinya percampuran akidah dengan tradisi pra-Islam. Hal ini yang terdapat pada kesenian debus.
seiring perkembangan jaman, terdapat beberapa perubahan pada kesenian Debus, hingga akhirnya membentuk sebuah kombinasi antara seni tari, suara serta seni kebatinan dengan nuansa magis. Karena merupakan alat penyebaran agama Islam pada zaman dulu maka kesenian ini dimulai dengan lantunan sholawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Dilihat dari pementasannya, pertunjukan Debus dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu Gembruk, Beluk, dan Pencak. Gembruk merupakan penampilan pembuka, dengan ciri khas iringan musik menggunakan drum perkusi. Puncak acara adalah Beluk, yang banyak dihiasi oleh teriakan-teriakan. Pada saat inilah unjuk kebolehan seni kekebalan tubuh dipertontonkan. Dan yang terakhir adalah Pencak, yang mementaskan seni beladiri tradisional baik secara perseorangan maupun berpasangan.
Adapun dalam setiap pementasannya, hal - hal ekstrim yang sering dipertontonkan adalah:
  • Bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.
  • Menaiki atau menduduki golok tajam yang disusun sedemikina rupa, tanpa terluka sedikitpun.
  • Memakan api, menggoreng telur diatas kepala, membakar tubuh dengan api.
  • Menyiram tubuh dengan menggunakan air keras hingga baju yang dikenakan hancur, namun kulit tubuh tetap utuh tanpa luka sedikitpun.
  • Mengiris anggota tubuh hingga berdarah, namun dalam seketika dapat sembuh tanpa meninggalkan bekas sedikitpun, hanya dengan mengusap anggota badan yang telah diiris.
  • Menusukkan jarum, pisau, dan benda benda tajam lainnya ke lidah dan kulit pipi, tanpa mengeluarkan darah setetespun.
  • Menusukkan tombak, pedang, dan berbagai senjata tajam lainnya, tanpa sedikitpun melukai kulit tubuh yang menjadi sasaran tusukan.
  • Membengkokkan senjata, besi baja dengan menggunakan tenggorokan dan alat vital pada bagian tubuh lainnya tanpa mengalami luka sedikitpun.

Tokoh Debus modern saat ini adalah Tubagus Barce Banten atau Abah Barce, kabarnya beliau selalu menjadi penasihat spritual kalangan elit politik dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit yang tidak dapat disembuhkan dunia kedokteran. Beliau juga sangat berperan memperkenalkan kesenian Debus hingga ke manca negara seperti ke Australia, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Belanda dan Spanyol. Menurut pria yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Amsterdam Belanda pada tahun 1985 ini Debus tidak ada kaitannya sama sekali dengan ilmu sihir atau magis karena hal itu merupakan perbuatan Syirik (menyeketukan Allah) dan beliau menegaskan bahwa Debus digunakan pada zaman dahulu untuk melawan kolonial Belanda.
Kesenian Debus Sebagai Potensi Wisata

Terlepas dari anggapan debus berkaitan erat dengan dunia mistis yang bertentangan dengan Islam, ajaran itu turut berperan dalam sejarah diciptakannya kesenian debus di Indonesia, serta pelaksanaan atraksinya yang dimulai dengan pembacaan doa maupun lantunan sholawat Nabi. Tak dapat disangkal, debus merupakan kesenian tradisional khas Banten yang dapat dijadikan sebagai daya tarik bagi para wisatawan.
Jadi, mengapa tidak melestarikan dan mengembangkan kesenian debus, yang juga merupakan ciri khas kebudayaan Banten.
Dalam melakukan setiap atraksinya, setiap pemain memiliki syarat-syarat tertentu  yang biasanya dilakukan sekitar satu atau dua minggu sebelum ritual dilakukan. Selain itu, mereka juga dituntut untuk tidak melakukan beberapa pantangan yakni dilarang meminum-minuman keras, main judi, dan mencuri.
Konon, kesenian Debus ini memliki makna filosofis keagamaan yang kental, dimana dipercaya bahwa apapun yang dihantamkan ke tubuh mereka meskipun terlihat berbahaya tidak akan melukai mereka dikarenakan pemainnya memiliki iman kuat dan pasrah serta ikhlas kepada Tuhannya. Mereka pun percaya bahwa segala sesuatu akan terjadi karena kehendak Tuhan, meskipun secara logika hal tersebut akan melukai dan membahayakan mereka.
Uniknya tradisi khas Banten ini semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Keberadaan kesenian ini semakin berkurang karena berkurangnya para pemain. Selain memang sudah tidak banyak pemuda yang tertarik melakukan kesenian Debus ini, kesenian ini juga dianggap cukup berbahaya untuk dilakukan. Banyak pemain yang terluka akibat kurangnya persiapan. Saat ini kesenian Debus hanya dapat disaksikan pada waktu-waktu tertentu. Dan bukan tidak mungkin salah satu warisan budaya Indonesia yang berasal dari tanah Banten ini akan menjadi sekedar cerita di masa mendatang akibat tergerus perkembangan zaman.



Sumber:

Sumber Gambar:
http://rudisony.wordpress.com/2009/12/21/kesenian-debus/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar