Kamis, 13 Desember 2012

Terapi yang Diperlukan dan Cara Mencegah Enterobiasis






Abstrak
Penyakit cacing sudah banyak ditemukan di dunia, salah satunya adalah penyakit enterobiasis. Banyak cacing yang bisa menimbulkan penyakit misalnya cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing kremi (Oxyuris vermicularis), cacing tambang (Ankylostoma duodenale dan Necator Americanus), cacing pita (Taenia saginata/Taenia solium/Taenia lata), cacing benang (Strongiloides stercularis), Schistosoma, cacing Wuchereria bancrofti dan Burgia malay. Enterobiasis disebabkan oleh cacing kremi. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan jika ditemukannya telur cacing, cacing dewasa ataupun telur pada pemeriksaan tinja. Penyakit ini banyak terdapat pada daerah yang dingin dan anak-anak yang hygienenya buruk. Pengobatannya dapat diberikan mebendazol atau albendazol, piperazin, dan pirantel pamoat. Penyakit ini bertambah buruk jika jumlah cacing di usus bertambah banyak sehingga dapat mengakibatkan appendisitis. Pencegahan penyakit ini dengan selalu menjaga dan memperhatikan kebersihan.
Kata kunci : Pengobatan enterobiasis, penyebab enterobiasis

Abstract
Worm disease has been found in the world, one of which is a disease of enterobiasis. Many worms that can cause diseases such as roundworm (Ascaris lumbricoides), pinworms (Oxyurisvermicularis), hookworm (Ankylostoma duodenale and Necatoramericanus), tapeworms (Taenia saginata /Taenia solium/Taenia lata), thread worms (Strongiloides stercularis), Schistosoma, worms Wuchereria bancrofti and Burgia malay. Enterobiasis caused by pinworms. The diagnosis of this disease can be enforced if the discovery of worm eggs, adult worms or eggs on stool examination. The disease is found in many cold areas and children who hygiene was bad. Treatment can be given by mebendazol or albendazole, piperazin, and pirantel pamoat. These diseases get worse if the number of worms in the intestines increases so that it can lead to many Appendisitis. Prevention of this disease by always keeping and attention to cleanliness.
key words: Treatment of enterobiasis, the cause of enterobiasis




Pendahuluan

Penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing masih banyak dijumpai di Indonesia terutama yang termasuk dalam kelompok cacing usus. Diagnosis penyakit cacing ditegakkan  dengan menemukan telur, larva, dan cacing dewasanya pada pemeriksaan tinja. Kesalahan diagnosis dapat berakibat fatal maka dari itu pemeriksaan haruslah benar. Tujuannya untuk menambah wawasan pembaca mengenai penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah, memahami anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi, prognosis, dan pencegahan dari enterobiasis.


Enterobiasis
Enterobiasis adalah penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminthes) diakibatkan cacing Enterobius vermicularis.1 Penyakit enterobiasis tersebar luas di seluruh dunia terutama menyerang anak-anak dan golongan ekonomi yang lemah dan hygiene buruk.2 Enterobius vermicularis lebih banyak ditemukan di daerah dingin dikarenakan pada cuaca dingin penduduk jarang mandi dan mengganti baju dalam.
Pada pemeriksaan fisik anus akan terlihat warna putih seperti parutan kelapa. Pada pemeriksaan penunjang dengan anal swab, yang dilakukan pada pagi hari (setelah anak bangun tidur) sebelum anak buang air besar dan mencuci bokong. Anal swab dilakukan dengan cara menempelkan suatu perekat pada ujung batang pengaduk atau tongue spatel, kemudian ditempelkan di sekitar anus kemudian diratakan pada object glass dan teteskan toluol, perhatikan di bawah mikroskop.1 Hasilnya akan ditemukan telur cacing. Pemeriksaan dilakukan sebaiknya 3 hari berturut-turut.1 Dengan pemeriksaan tinja, ditemukan telur cacing maupun cacing dan pada pemeriksaan laboratorium didapati sedikit eosinofilia.3

Etiologi
            Enterobiasis disebabkan oleh Enterobius vermicularis atau Oxyuris vermicularis (cacing kremi, pinworm, seatworm). Ujung anterior pada cacing dewasa ada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae.4 Habitat cacing dewasa biasanya di rongga caecum, usus besar, dan di usus halus yang berdekatan dengan rongga caecum. Makanannya dari usus.






Gambar 1. Kepala Bercephalic alae4
            Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Bulbus esofagus bulat besar, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur. Pada gravid terdapat 11.000-15.000 butir telur, bermigrasi ke daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telur-telur jarang dikeluarkan di usus sehingga jarang ditemukan di dalam tinja. Cacing jantan berukuran 2-5 mm.4 Bulbus esofagus lebar, ekornya melingkar seperti tanda tanya dan terdapat spikulum. Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi caecum. Cacing jantan mati setelah kopulasi dan cacing betina mati mati setelah bertelur.

           






Gambar 2. Cacing Dewasa Betina dan Jantan4
Telur Enterobius vermicularis berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetris). Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan pada suhu badan. Telur resisten terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.



 




Gambar 3. Telur Enterobius vermicularis4

Manifestasi klinis
            Gejala klinis yang paling sering ditemukan adalah iritasi di sekitar anus, perineum, dan vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah anus dan vagina sehingga menyebabkan pruritus lokal.1 Pruritus pada anus yang timbul malam hari dikarenakan cacing bermigrasi ke daerah anus. Pada anak-anak dapat timbul anoreksia, penurunan berat badan, sukar tidur, dan jadi irritable sedangkan pada wanita dapat terjadi pruritus vulva dan vaginitis.2
Cacing betina gravid mengembara dan dapat bersarang di vagina dan di tuba Fallopii sehingga menyebabkan radang di saluran telur. Cacing sering ditemukan di appendix tetapi jarang menyebabkan appendisitis. Kadang-kadang cacing dewasa muda dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung, esofagus, dan hidung sehingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut. Jika cacing dewasa dalam jumlah yang banyak, dapat mengakibatkan appendisitis.

Penatalaksanaan
            Enterobiasis sebenarnya adalah self limited disease bila tidak ada reinfeksi tanpa pengobatan pun akan sembuh namun dapat diberikan terapi seperti:
Medikamentosa
Mebendazol, diberikan dalam dosis tunggal 100 mg diulang setelah 2 minggu dan 4 minggu kemudian. Obat ini mempunyai bioavailabilitas sistemik yang rendah disebabkan absorbsinya yang buruk dan mengalami metabolisme lintas pertama yang cepat. Absorbsi mebendazol akan meningkat bila diberikan bersama dengan makanan yang berlemak. Mebendazol menyebabkan kerusakan struktur subselular dan menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing, menghambat intake glukosa secara irreversibel sehingga terjadi deplesi glikogen yang membuat cacing akan mati perlahan-perlahan.5 Hasil terapi yang memuaskan akan terlihat setelah 3 hari pemberian obat. Efek sampingnya mual, muntah, diare, dan sakit perut yang bersifat sementara, kemudian terdapat erratic migration yaitu cacing keluar lewat mulut.5
Albendazol dosis tunggal 400 mg diulang setelah 2 minggu. Obat ini availabilitasnya hampir sama dengan mebendazol karena albendazol merupakan derivat mebendazol. Cara kerjanya dengan mengikat β-tubulin parasit sehingga menghambat polimerisasi mikrotubulus dan memblok pengambilan glukosa oleh larva maupun cacing dewasa sehingga persediaan glikogen menurun dan pembentukan ATP berkurang akibatnya cacing akan mati.5 Efek sampingnya berupa nyeri ulu hati, diare, sakit kepala, mual, lemah, pusing, dan insomnia. Mebendazol dan albendazol merupakan antelmintik yang luas spektrumnya. Kedua obat ini efektif pada semua stadium perkembangan cacing kremi.
Piperazin, diberikan dalam dosis tunggal (baik anak-anak maupun dewasa) 65 mg/ kgBB, maksimum 2,5 gram sekali sehari selama 7 hari berturut-turut namun sebaiknya diulang sesudah 1-2 minggu atau diberikan selama 4 hari berturut-turut. Cara kerja obat ini dengan menghambat kerja GABA pada otot cacing sehingga mengganggu permeabilitas membran sel terhadap ion-ion yang berperan dalam mempertahankan potensial istirahat yang menyebabkan hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan disertai paralisis.5 Cacing akan keluar 1-3 hari setelah pengobatan. Efek sampingnya gangguan GIT, sakit kepala, pusing, dan alergi.
Pirantel pamoat, diberikan dalam dosis tunggal 10 mg/ kgBB diulang setelah 2 minggu. Obat ini menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls sehingga cacing mati dalam keadaan spastis.5 Efek sampingnya hanya berupa keluhan saluran cerna, demam, dan sakit kepala yang sifatnya sementara. Piperazin dan pirantel pamoat dosis tunggal tidak efektif terhadap stadium muda.
Semua terapi pengobatan sebaiknya diulang lagi 2-3 minggu kemudian karena telur-telur cacing dapat ditemukan kembali pada anus 5 minggu setelah pengobatan.

Non medikamentosa
Anak dengan cacing kremi sebaiknya memakai celana panjang jika hendak tidur supaya alat kasur tidak terkontaminasi dan hindarkan tangan dari menggaruk daerah perianal. Pengobatan dilakukan pada semua anggota keluarga adan juga kepada orang yang sering berhubungan dengan pasien. Memulihkan imunitas tubuh (makan makanan yang bergizi serta mengkonsumsi vitamin). Baik dan tidak menimbulkan bahaya terutama dengan pengobatan yang baik namun harus selalu memperhatikan kebersihan untuk mencegah terjadinya retrofeksi kembali.

Pencegahan
            Untuk mencegah maka perlunya memperhatikan kebersihan diri sendiri seperti kuku dipotong pendek, tangan dicuci sebelum makan, dan lain-lain. Makanan perlu dihindarkan dari debu. Pakaian dan alas kasur dicuci dengan bersih dan diganti setiap hari.

Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah analitik observasional dengan metode yang digunakan adalah metode survey dengan pendekatan belah lintang atau cross sectional. Ruang lingkup keilmuan dari penelitian ini mencakup bidang Parasitologi Klinik.
Sampel : penelitian dilakukan terhadap siswa SDN Panggung Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang, Jawa Tengah. Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus besar sampel tunggal untuk uji hipotesis proporsi suatu populasi, dan didapatkan jumlah sampel minimal sebesar 67 orang. Kriteria inklusi adalah seluruh murid kelas 1 sampai 5 yang hadir saat pengambilan data yang telah mendapatkan persetujuan (informed consent) dan membawa kuesioner tentang status ekonomi yang telah diisi oleh orangtua. Sedangkan kriteria eksklusi adalah anak yang tidak kooperatif saat dilakukannya pemeriksaan.6
Alat yang digunakan yaitu adhesive tape, object glass, sarung tangan, dan mikroskop. Bahan penelitian yaitu perianal swab dan kuesioner. Data yang dikumpulkan merupakan data primer, merupakan data yang diperoleh dari hasil kuesioner yang diisi oleh orang tua dan pemeriksaan langsung terhadap sampel menggunakan metode Graham Scotch yang dilanjutkan dengan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop di Laboratorium Parasitologi FK Universitas Diponegoro. Dikatakan positif terinfeksi jika ditemukan adanya telur atau cacing dewasa pada pemeriksaan mikroskpis. Setelah itu dilakukan penghitungan (scoring) terhadap kuesioner untuk menilai status ekonomi. Status ekonomi dinilai berdasarkan skala Bistok Saing, disebut tinggi jika skor 18-24, sedang jika skor 13-17, dan status ekonomi rendah jika skor 9-12. Setelah data diperoleh, data dianalisis dengan menghitung rasio prevalens untuk mengetahui apakah status ekonomi merupakan faktor risiko untuk terjadinya infeksi E. vermicularis.
Hasilnya sampel penelitian berjumlah 93 sampel, yaitu siswa kelas 1 sampai 5 SDN Panggung, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang. Pada pengumpulan data penelitian didapatkan 6 sampel yang tidak mengisi data yang dibutuhkan pada kuesioner, sehingga total sampel sebanyak 87 sampel. Dari hasil penelitian dapat diperoleh karakteristik sampel seperti pada tabel 1.6


Tabel 1. Karakteristik Siswa SDN Panggung, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang.
Karakteristik Sampel
Jumlah
%
Jenis kelamin


       Laki-laki
43
49,4
       Perempuan
44
50,6
Status ekonomi


       Kurang
18
20,7
       Sedang
52
59,8
       Tinggi
17
19,5
Status hygiene


       Kurang
2
2,3
       Sedang
20
23
       Baik
65
74,7

Dari tabel di atas dapat dilihat jumlah siswa laki-laki hampir sama dengan jumlah siswa perempuan. Jumlah sampel terbanyak berasal dari status ekonomi sedang, dan status hygiene baik.6

Kesimpulan

            Enterobiasis disebabkan oleh Enterobius vermicularis atau Oxyuris vermicularis, yang biasa disebut cacing kremi. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan jika ditemukannya telur cacing dengan anal swab serta menemukan cacing dewasa ataupun telur pada pemeriksaan tinja. Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui inhalasi debu, dari tangan ke mulut setelah menggaruk daerah perianal, lewat bulu binatang seperti anjing dan kucing, serta secara retrofeksi melalui anus. Gejala klinis yang utama dari penyakit ini yaitu adanya gatal sehingga jika pada malam hari tidur tidak nyenyak, anoreksia, dan penurunan berat badan.
            Untuk pengobatan dapat diberikan mebendazol/ albendazol, piperazin, pirantel pamoat. Penyakit ini bertambah buruk jika jumlah cacing di usus bertambah banyak yang dapat mengakibatkan appendisitis. Pencegahan penyakit ini dengan selalu menjaga dan memperhatikan kebersihan perorangan serta anggota keluarga dalam rumah.
Daftar Pustaka

1.   Gandahusada S, Herry H, Pribadi W. Parasitologi kedokteran. Edisi ke-4. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2008.h.25-8
2.   Hasan R, Alatas H. Ilmu kesehatan anak. Jilid II. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1985.h.648-9
3.   Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-4. Jilid III. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006.h.1765
4.   Purnomo, Gunawan J, LJ Magdalena, R Ayda, A Harijani. Atlas helmintologi kedokteran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2005.h.20-9
5.   Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.h.541-45
6.   Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Hubungan status ekonomi dengan kejadian infeksi cacing Enterobius vermicularis. Diunduh dari http://eprints.undip.ac.id/24538/1/Laras.pdf, 6 November 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar