Abstrak
Penyakit cacing sudah
banyak ditemukan di dunia, salah satunya adalah penyakit enterobiasis. Banyak
cacing yang bisa menimbulkan penyakit misalnya cacing gelang (Ascaris
lumbricoides), cacing kremi (Oxyuris vermicularis), cacing tambang (Ankylostoma
duodenale dan Necator Americanus), cacing pita (Taenia saginata/Taenia
solium/Taenia lata), cacing benang (Strongiloides stercularis), Schistosoma,
cacing Wuchereria bancrofti dan Burgia malay. Enterobiasis disebabkan oleh
cacing kremi. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan jika ditemukannya telur
cacing, cacing dewasa ataupun telur pada pemeriksaan tinja. Penyakit ini banyak
terdapat pada daerah yang dingin dan anak-anak yang hygienenya buruk. Pengobatannya
dapat diberikan mebendazol atau albendazol, piperazin, dan pirantel pamoat.
Penyakit ini bertambah buruk jika jumlah cacing di usus bertambah banyak sehingga
dapat mengakibatkan appendisitis. Pencegahan penyakit ini dengan selalu menjaga
dan memperhatikan kebersihan.
Kata
kunci : Pengobatan enterobiasis, penyebab enterobiasis
Abstract
Worm
disease has been found in the world, one of which is a disease of enterobiasis.
Many worms that can cause diseases such
as roundworm (Ascaris lumbricoides), pinworms (Oxyurisvermicularis),
hookworm (Ankylostoma duodenale and Necatoramericanus), tapeworms (Taenia saginata /Taenia solium/Taenia lata),
thread worms (Strongiloides stercularis), Schistosoma, worms Wuchereria bancrofti
and Burgia malay. Enterobiasis caused by pinworms. The diagnosis of this disease
can be enforced if the discovery of worm eggs, adult worms or eggs on stool examination.
The disease is found in many cold areas and children who hygiene was bad. Treatment
can be given by mebendazol or albendazole, piperazin, and pirantel pamoat.
These diseases get worse if the number of worms in the intestines increases so
that it can lead to many Appendisitis. Prevention of this disease by always keeping
and attention to cleanliness.
key words:
Treatment of enterobiasis, the cause of enterobiasis
Pendahuluan
Penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing masih banyak
dijumpai di Indonesia terutama yang termasuk dalam kelompok cacing usus.
Diagnosis penyakit cacing ditegakkan
dengan menemukan telur, larva, dan cacing dewasanya pada pemeriksaan
tinja. Kesalahan diagnosis dapat berakibat fatal maka dari itu pemeriksaan
haruslah benar. Tujuannya untuk menambah wawasan
pembaca mengenai penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah, memahami anamnesis,
pemeriksaan, diagnosis, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, manifestasi
klinis, penatalaksanaan, komplikasi, prognosis, dan pencegahan dari
enterobiasis.
Enterobiasis
Enterobiasis adalah
penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminthes) diakibatkan cacing Enterobius vermicularis.1 Penyakit
enterobiasis tersebar luas di seluruh dunia
terutama menyerang anak-anak dan golongan ekonomi yang lemah dan hygiene buruk.2
Enterobius vermicularis lebih banyak
ditemukan di daerah dingin dikarenakan pada cuaca dingin penduduk jarang mandi
dan mengganti baju dalam.
Pada
pemeriksaan fisik anus akan terlihat warna putih seperti parutan kelapa. Pada
pemeriksaan penunjang dengan anal swab, yang dilakukan pada
pagi hari (setelah anak bangun tidur) sebelum anak buang air besar dan mencuci
bokong. Anal swab dilakukan dengan cara menempelkan suatu perekat pada ujung
batang pengaduk atau tongue spatel, kemudian ditempelkan di sekitar anus
kemudian diratakan pada object glass
dan teteskan toluol, perhatikan di bawah mikroskop.1 Hasilnya akan
ditemukan telur cacing. Pemeriksaan dilakukan sebaiknya 3 hari berturut-turut.1
Dengan pemeriksaan tinja, ditemukan telur cacing maupun cacing dan pada
pemeriksaan laboratorium didapati sedikit eosinofilia.3
Etiologi
Enterobiasis disebabkan oleh Enterobius vermicularis atau Oxyuris vermicularis (cacing kremi,
pinworm, seatworm). Ujung anterior pada cacing dewasa ada pelebaran kutikulum
seperti sayap yang disebut alae.4 Habitat cacing dewasa biasanya di
rongga caecum, usus besar, dan di usus halus yang berdekatan dengan rongga
caecum. Makanannya dari usus.

Gambar
1. Kepala Bercephalic alae4
Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Bulbus esofagus
bulat besar, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan
penuh dengan telur. Pada gravid terdapat 11.000-15.000 butir telur, bermigrasi
ke daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya.
Telur-telur jarang dikeluarkan di usus sehingga jarang ditemukan di dalam
tinja. Cacing jantan berukuran 2-5 mm.4 Bulbus esofagus lebar,
ekornya melingkar seperti tanda tanya dan terdapat spikulum. Kopulasi cacing
jantan dan betina mungkin terjadi caecum. Cacing jantan mati setelah kopulasi
dan cacing betina mati mati setelah bertelur.
Gambar
2. Cacing Dewasa Betina dan Jantan4
Telur Enterobius
vermicularis berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetris).
Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan pada suhu
badan. Telur resisten terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan
lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.
Gambar
3. Telur Enterobius vermicularis4
Manifestasi
klinis
Gejala
klinis yang paling sering ditemukan adalah iritasi di sekitar anus, perineum,
dan vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah anus dan vagina
sehingga menyebabkan pruritus lokal.1 Pruritus pada anus yang timbul
malam hari dikarenakan cacing bermigrasi ke daerah anus. Pada anak-anak dapat
timbul anoreksia, penurunan berat badan, sukar tidur, dan jadi irritable
sedangkan pada wanita dapat terjadi pruritus vulva dan vaginitis.2
Cacing betina gravid
mengembara dan dapat bersarang di vagina dan di tuba Fallopii sehingga
menyebabkan radang di saluran telur. Cacing sering ditemukan di appendix tetapi
jarang menyebabkan appendisitis. Kadang-kadang cacing dewasa muda dapat
bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung, esofagus, dan hidung
sehingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut. Jika cacing dewasa dalam
jumlah yang banyak, dapat mengakibatkan appendisitis.
Penatalaksanaan
Enterobiasis
sebenarnya adalah self limited disease bila tidak ada reinfeksi tanpa
pengobatan pun akan sembuh namun dapat diberikan terapi seperti:
Medikamentosa
Mebendazol, diberikan
dalam dosis tunggal 100 mg diulang setelah 2 minggu dan 4 minggu kemudian. Obat
ini mempunyai bioavailabilitas sistemik yang rendah disebabkan absorbsinya yang
buruk dan mengalami metabolisme lintas pertama yang cepat. Absorbsi mebendazol
akan meningkat bila diberikan bersama dengan makanan yang berlemak. Mebendazol
menyebabkan kerusakan struktur subselular dan menghambat sekresi
asetilkolinesterase cacing, menghambat intake glukosa secara irreversibel
sehingga terjadi deplesi glikogen yang membuat cacing akan mati perlahan-perlahan.5
Hasil terapi yang memuaskan akan terlihat setelah 3 hari pemberian obat. Efek
sampingnya mual, muntah, diare, dan sakit perut yang bersifat sementara,
kemudian terdapat erratic migration yaitu cacing keluar lewat mulut.5
Albendazol dosis
tunggal 400 mg diulang setelah 2 minggu. Obat ini availabilitasnya hampir sama
dengan mebendazol karena albendazol merupakan derivat mebendazol. Cara kerjanya
dengan mengikat β-tubulin parasit sehingga menghambat polimerisasi mikrotubulus
dan memblok pengambilan glukosa oleh larva maupun cacing dewasa sehingga
persediaan glikogen menurun dan pembentukan ATP berkurang akibatnya cacing akan
mati.5 Efek sampingnya berupa nyeri ulu hati, diare, sakit kepala,
mual, lemah, pusing, dan insomnia. Mebendazol
dan albendazol merupakan antelmintik yang luas spektrumnya. Kedua obat ini
efektif pada semua stadium perkembangan cacing kremi.
Piperazin, diberikan
dalam dosis tunggal (baik anak-anak maupun dewasa) 65 mg/ kgBB, maksimum 2,5
gram sekali sehari selama 7 hari berturut-turut namun sebaiknya diulang sesudah
1-2 minggu atau diberikan selama 4 hari berturut-turut. Cara kerja obat ini
dengan menghambat kerja GABA pada otot cacing sehingga mengganggu permeabilitas
membran sel terhadap ion-ion yang berperan dalam mempertahankan potensial
istirahat yang menyebabkan hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan disertai
paralisis.5 Cacing akan keluar 1-3 hari setelah pengobatan. Efek
sampingnya gangguan GIT, sakit kepala, pusing, dan alergi.
Pirantel pamoat,
diberikan dalam dosis tunggal 10 mg/ kgBB diulang setelah 2 minggu. Obat ini
menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls
sehingga cacing mati dalam keadaan spastis.5 Efek sampingnya hanya
berupa keluhan saluran cerna, demam, dan sakit kepala yang sifatnya sementara.
Piperazin dan pirantel pamoat dosis tunggal tidak efektif terhadap stadium
muda.
Semua
terapi pengobatan sebaiknya diulang lagi 2-3 minggu kemudian karena telur-telur
cacing dapat ditemukan kembali pada anus 5 minggu setelah pengobatan.
Non
medikamentosa
Anak dengan cacing
kremi sebaiknya memakai celana panjang jika hendak tidur supaya alat kasur
tidak terkontaminasi dan hindarkan tangan dari menggaruk daerah perianal. Pengobatan
dilakukan pada semua anggota keluarga adan juga kepada orang yang sering
berhubungan dengan pasien. Memulihkan imunitas tubuh (makan makanan yang
bergizi serta mengkonsumsi vitamin). Baik dan tidak menimbulkan bahaya terutama
dengan pengobatan yang baik namun harus selalu memperhatikan kebersihan untuk
mencegah terjadinya retrofeksi kembali.
Pencegahan
Untuk
mencegah maka perlunya memperhatikan kebersihan diri sendiri seperti kuku
dipotong pendek, tangan dicuci sebelum makan, dan lain-lain. Makanan perlu dihindarkan
dari debu. Pakaian dan alas kasur dicuci dengan bersih dan diganti setiap hari.
Rancangan
Penelitian
Rancangan penelitian
ini adalah analitik observasional dengan metode yang digunakan adalah metode
survey dengan pendekatan belah lintang atau cross sectional. Ruang lingkup
keilmuan dari penelitian ini mencakup bidang Parasitologi Klinik.
Sampel : penelitian
dilakukan terhadap siswa SDN Panggung Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu,
Semarang, Jawa Tengah. Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus besar
sampel tunggal untuk uji hipotesis proporsi suatu populasi, dan didapatkan jumlah
sampel minimal sebesar 67 orang. Kriteria inklusi adalah seluruh murid kelas 1
sampai 5 yang hadir saat pengambilan data yang telah mendapatkan persetujuan
(informed consent) dan membawa kuesioner tentang status ekonomi yang telah
diisi oleh orangtua. Sedangkan kriteria eksklusi adalah anak yang tidak
kooperatif saat dilakukannya pemeriksaan.6
Alat yang digunakan
yaitu adhesive tape, object glass, sarung tangan, dan mikroskop. Bahan
penelitian yaitu perianal swab dan kuesioner. Data yang dikumpulkan merupakan
data primer, merupakan data yang diperoleh dari hasil kuesioner yang diisi oleh
orang tua dan pemeriksaan langsung terhadap sampel menggunakan metode Graham
Scotch yang dilanjutkan dengan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop di
Laboratorium Parasitologi FK Universitas Diponegoro. Dikatakan positif
terinfeksi jika ditemukan adanya telur atau cacing dewasa pada pemeriksaan
mikroskpis. Setelah itu dilakukan penghitungan (scoring) terhadap kuesioner
untuk menilai status ekonomi. Status ekonomi dinilai berdasarkan skala Bistok
Saing, disebut tinggi jika skor 18-24, sedang jika skor 13-17, dan status
ekonomi rendah jika skor 9-12. Setelah data diperoleh, data dianalisis dengan
menghitung rasio prevalens untuk mengetahui apakah status ekonomi merupakan
faktor risiko untuk terjadinya infeksi E. vermicularis.
Hasilnya sampel penelitian berjumlah 93
sampel, yaitu siswa kelas 1 sampai 5 SDN Panggung, Kelurahan Mangunharjo,
Kecamatan Tugu, Semarang. Pada pengumpulan data penelitian didapatkan 6 sampel
yang tidak mengisi data yang dibutuhkan pada kuesioner, sehingga total sampel
sebanyak 87 sampel. Dari hasil penelitian dapat diperoleh karakteristik sampel
seperti pada tabel 1.6
Tabel 1. Karakteristik Siswa SDN
Panggung, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang.
|
Karakteristik Sampel
|
Jumlah
|
%
|
|
Jenis kelamin
|
|
|
|
Laki-laki
|
43
|
49,4
|
|
Perempuan
|
44
|
50,6
|
|
Status ekonomi
|
|
|
|
Kurang
|
18
|
20,7
|
|
Sedang
|
52
|
59,8
|
|
Tinggi
|
17
|
19,5
|
|
Status hygiene
|
|
|
|
Kurang
|
2
|
2,3
|
|
Sedang
|
20
|
23
|
|
Baik
|
65
|
74,7
|
Dari tabel di atas dapat dilihat jumlah
siswa laki-laki hampir sama dengan jumlah siswa perempuan. Jumlah sampel terbanyak
berasal dari status ekonomi sedang, dan status hygiene baik.6
Kesimpulan
Enterobiasis
disebabkan oleh Enterobius vermicularis atau Oxyuris vermicularis, yang biasa
disebut cacing kremi. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan jika ditemukannya
telur cacing dengan anal swab serta menemukan cacing dewasa ataupun telur pada
pemeriksaan tinja. Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui inhalasi debu,
dari tangan ke mulut setelah menggaruk daerah perianal, lewat bulu binatang
seperti anjing dan kucing, serta secara retrofeksi melalui anus. Gejala klinis
yang utama dari penyakit ini yaitu adanya gatal sehingga jika pada malam hari
tidur tidak nyenyak, anoreksia, dan penurunan berat badan.
Untuk pengobatan dapat diberikan mebendazol/ albendazol,
piperazin, pirantel pamoat. Penyakit ini bertambah buruk jika jumlah cacing di
usus bertambah banyak yang dapat mengakibatkan appendisitis. Pencegahan
penyakit ini dengan selalu menjaga dan memperhatikan kebersihan perorangan
serta anggota keluarga dalam rumah.
Daftar Pustaka
1.
Gandahusada S, Herry H, Pribadi W. Parasitologi kedokteran. Edisi ke-4.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2008.h.25-8
2.
Hasan
R, Alatas H. Ilmu kesehatan anak. Jilid II. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1985.h.648-9
3.
Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-4. Jilid III. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006.h.1765
4.
Purnomo, Gunawan J, LJ Magdalena, R Ayda, A Harijani. Atlas helmintologi
kedokteran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2005.h.20-9
5.
Gunawan SG, Setiabudy
R, Nafrialdi. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2007.h.541-45
6.
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Hubungan
status ekonomi dengan kejadian infeksi cacing Enterobius vermicularis. Diunduh
dari http://eprints.undip.ac.id/24538/1/Laras.pdf, 6 November 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar