Pendahuluan
Sentra Industri keramik hias di kabupaten Takalar,Sulawesi
selatan keberadaanya sudah lama sejak tahun 1960 ,dengan potensi ketersediaan
bahan baku lempung yang melimpah.
Teknologi yang diterapkan oleh pengrajin keramik Takalar
sangat sederhana,dengan metode pembuatan tersebut hasil produksi memiliki kuat
lentur yang rendah jauh dibawah persyaratan kuat lentur minimum untuk massa
badan ubin lantai keramik menurut SNI 03-4062-96 sebesar 18 Mpa.
Penyebabnya saat proses penyiapan bahan bodi yang sangat
sederhana,sehingga memiliki ukuran butir yang kasar,penurunan ukuran butir
partikel akan menaikan kekuatan mekanis .
Ukuran butir yang lebih halus memeberikan kekuatan mekanis
yang lebih besar.
Kekuatan mekanis produk dipengaruhi jenis dan jumlah
fasa,keretakan,keporian hasil bakaran ,ukuran butir dan adanya bahan pengotor.
Dalam peningkatan efisiensi dan peningkatan mutu bodi keramik hias Takalar
dilakukan penelitian menggunakan teknologi sederhana dan lempung gowa untuk
diterapkan dalam industri kecil dan menengah khususnya di daerah Takalar.
Dilakukan juga percobaan dengan
Lempung Gowa untuk bahan alternatif.
} M Dalam percobaan ini dibuat 3 jenis
bodi variasi suhu pembakaran:
a.
Bodi dari massa dari massa perajin
takalar,massa bodi diulet dan dibuat
benda coba,kemudian di bakar pada suhu
800,900 dan 1000ᵒ C
b.
Bodi dari lempung Takalar,Lempung Takalar diolah dengan menggunakan pot
mill dan mixer lalu dibuat benda coba dan dibakar seperti pada butir a.
c.
Bodi dari lempung gowa,dibuat seperti pada butir b.
} Karakteristik bodi diukur sebelum dan sesudah
dibakar diperiksa mengikuti prosedur SNI,yang diperiksa adalah air
pembentuk,keplastisan,kenampakan warna kering,susut kering,kuat lentur kering,keporian
semu,berat jenis.
metode Penelitian
Hasil dan pembahasan sifat sebelum
pembakaran
Hasil karakteristik bodi mentah
dengan massa lempung yang dihaluskan melalui proses pot mill dan mixer
menunjukan peningkatan sifat-sifat fisik yang lebih baik dibanding bodi mentah
tanpa melalui proses penggilingan terlebih dahulu.
Air pembentuk untuk massa Takalar
baik yang melalui proses pot mill dan mixer lebih besar dibanding untuk massa
Takalar tanpa pengolah.
Hal ini menunjukan bahwa sifat
keplastisan massa melalui proses pengolahan lebih baik [8,10].
Lempung untuk gerabah harus memiliki
indeks keplastisan >29,sifat keplastisan lempung Gowa lebih baik dari
lempung Takalar.
Susut kering massa bodi gerabah
perajin takalar lebih kecil daripada yang melalui penggolahan.
Sifat-sifat setelah pembakaran:
Penampakan permukaan benda coba hasil
pembakaran pada suhu 800-1000ᵒ C untuk bodi gerabah yang melalui proses pot
mill dan mixer jauh lebih baik dibandigkan tidak melalui proses pengolahan,hal
ini dapat terjadi karena perbedaan kehalusan bahan baku.
Warna hasil bakar untuk bodi gerabah
tanpa penggolahan agak pucat,kemungkinan karena pengaruh penambahan pasir pada
bodi gerabah Takalar,disimpulkan pembakaran pada range 800-1000ᵒ C untuk
gerabah Takalar dan lempung gowa cukup baik.
Kenaikan suhu pembakaran sampai 1000ᵒ
C memberikan kenaikan susut bakar untuk ketiga bodi gerabah.
Penggaruh proses pot mill dan mixer
terhadap berat jenis semu dan berat volume gerabah Takalar tidak signifikan.
Memberikan kenaikan signifikan pada
kekuatan mekanik gerabah dari hasil
pembakaran pada suhu 800-1000ᵒ C .
Kuat lentur gerabah perajin
Takalar adalah 10,6-15,4 Mpa,sedangkan
gerabah yang melalui proses pot mill dan mixer jauh lebih tinggi yaitu 17,1-33,0 Mpa,Hal ini disebabkan karena
adanya penurunan ukuran butir.
Sebaiknya bodi gerabah mempunyai kuat
lentur minimal 18 Mpa.
Dari hal tersebut berarti bodi
gerabah Takalar yang tidak melalui proses penggolahan bahan kurang
baik,demikian untuk gerabah Takalar yang sudah dibakar pada suhu 800.
Penyerapan air untuk kedua proses
pengolahan bahan menunjukan adanya penurunan dengan kenaikan suhu bakaran dari 800-1000ᵒ
C ,hal ini disebabkan karena kepadatan bodi keramik,percobaan untuk lempung
gowa cenderung menunjukan hasil yang sama.
Data keporian semu juga memberikan
penurunan keporian dengan adanya kenaikan suhu pembakaran 800-1000ᵒ C .
Keporian gerabah perajin Takalar yang tidak diolah sedikit lebih rendah dari
gerabah yang diolah ,hal ini karena efek penambahan pasir.
Dari studi lempung Gowa menunjukan hasil yang sama ,sehingga dapat
dijadikan alternatif untuk perajin gerabah Takalar.
Kesimpulan
•
Dari penelitian yang dilakukan:
1.
Bodi gerabah Takalar dengan bahan
baku yang tidak diolah terlebih dahulu memiliki kuat lentur kering serta kuat
lentur gerabah hasil pembakaran pada suhu 800-1000ᵒ C yang Rendah.
2.
Pengolahan bahan lempung Takalar dengan pencampuran di dalam mixer atau dengan penggilingan dalam pot mill
selama 5 jam meningkatkan kuat lentur kering dan kuat lentur hasil pembakaran
pada suhu 800-1000ᵒ C.
3.
Lempung Takalar dan Gowa yang telah diolah dibentuk dengan teknik putar.
4.
Gerabah dari bahan baku lempung Gowa melalui penggolahan dan penggilingan
pot mill ataupencampuran dengan mixer menunjukan sifat-sifat keramik yang baik
untuk pembakaran 800-1000ᵒ C.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar