Kamis, 13 Desember 2012

Studi Peningkatan Mutu Gerabah Takalar Sulawesi Selatan



Pendahuluan
Sentra Industri keramik hias di kabupaten Takalar,Sulawesi selatan keberadaanya sudah lama sejak tahun 1960 ,dengan potensi ketersediaan bahan baku lempung yang melimpah.
Teknologi yang diterapkan oleh pengrajin keramik Takalar sangat sederhana,dengan metode pembuatan tersebut hasil produksi memiliki kuat lentur yang rendah jauh dibawah persyaratan kuat lentur minimum untuk massa badan ubin lantai keramik menurut SNI 03-4062-96 sebesar 18 Mpa.
                                                                                                                                                         
Penyebabnya saat proses penyiapan bahan bodi yang sangat sederhana,sehingga memiliki ukuran butir yang kasar,penurunan ukuran butir partikel akan menaikan kekuatan mekanis .
Ukuran butir yang lebih halus memeberikan kekuatan mekanis yang lebih besar.
Kekuatan mekanis produk dipengaruhi jenis dan jumlah fasa,keretakan,keporian hasil bakaran ,ukuran butir dan adanya bahan pengotor.
Dalam peningkatan efisiensi dan  peningkatan mutu bodi keramik hias Takalar dilakukan penelitian menggunakan teknologi sederhana dan lempung gowa untuk diterapkan dalam industri kecil dan menengah khususnya di daerah Takalar.

Dilakukan juga percobaan dengan Lempung Gowa untuk bahan alternatif.
}  M Dalam percobaan ini dibuat 3 jenis bodi variasi suhu pembakaran:
a.     Bodi dari massa  dari massa perajin takalar,massa bodi diulet  dan dibuat benda coba,kemudian di bakar  pada suhu 800,900 dan 1000ᵒ  C
b.     Bodi dari lempung Takalar,Lempung Takalar diolah dengan menggunakan pot mill dan mixer lalu dibuat benda coba dan dibakar seperti pada butir a.
c.      Bodi dari lempung gowa,dibuat seperti pada butir b.
}   Karakteristik bodi diukur sebelum dan sesudah dibakar diperiksa mengikuti prosedur SNI,yang diperiksa adalah air pembentuk,keplastisan,kenampakan warna kering,susut kering,kuat lentur kering,keporian semu,berat jenis.

metode Penelitian
Hasil dan pembahasan sifat sebelum pembakaran
  Hasil karakteristik bodi mentah dengan massa lempung yang dihaluskan melalui proses pot mill dan mixer menunjukan peningkatan sifat-sifat fisik yang lebih baik dibanding bodi mentah tanpa melalui proses penggilingan terlebih dahulu.
  Air pembentuk untuk massa Takalar baik yang melalui proses pot mill dan mixer lebih besar dibanding untuk massa Takalar tanpa pengolah.
  Hal ini menunjukan bahwa sifat keplastisan massa melalui proses pengolahan lebih baik [8,10].
  Lempung untuk gerabah harus memiliki indeks keplastisan >29,sifat keplastisan lempung Gowa lebih baik dari lempung Takalar.
  Susut kering massa bodi gerabah perajin takalar lebih kecil daripada yang melalui penggolahan.

Sifat-sifat setelah pembakaran:
  Penampakan permukaan benda coba hasil pembakaran pada suhu 800-1000ᵒ C untuk bodi gerabah yang melalui proses pot mill dan mixer jauh lebih baik dibandigkan tidak melalui proses pengolahan,hal ini dapat terjadi karena perbedaan kehalusan bahan baku.
  Warna hasil bakar untuk bodi gerabah tanpa penggolahan agak pucat,kemungkinan karena pengaruh penambahan pasir pada bodi gerabah Takalar,disimpulkan pembakaran pada range 800-1000ᵒ C untuk gerabah Takalar dan lempung gowa cukup baik.
  Kenaikan suhu pembakaran sampai 1000ᵒ C memberikan kenaikan susut bakar untuk ketiga bodi gerabah.
  Penggaruh proses pot mill dan mixer terhadap berat jenis semu dan berat volume gerabah Takalar tidak signifikan.
  Memberikan kenaikan signifikan pada kekuatan mekanik  gerabah dari hasil pembakaran pada suhu 800-1000ᵒ C .
  Kuat lentur gerabah perajin Takalar  adalah 10,6-15,4 Mpa,sedangkan gerabah yang melalui proses pot mill dan mixer jauh lebih tinggi  yaitu 17,1-33,0 Mpa,Hal ini disebabkan karena adanya penurunan ukuran butir.
  Sebaiknya bodi gerabah mempunyai kuat lentur minimal 18 Mpa.
  Dari hal tersebut berarti bodi gerabah Takalar yang tidak melalui proses penggolahan bahan kurang baik,demikian untuk gerabah Takalar yang sudah dibakar pada suhu 800.
  Penyerapan air untuk kedua proses pengolahan bahan menunjukan adanya penurunan dengan kenaikan suhu bakaran dari 800-1000ᵒ C ,hal ini disebabkan karena kepadatan bodi keramik,percobaan untuk lempung gowa cenderung menunjukan hasil yang sama.
  Data keporian semu juga memberikan penurunan keporian dengan adanya kenaikan suhu pembakaran 800-1000ᵒ C .
  Keporian gerabah perajin Takalar  yang tidak diolah sedikit lebih rendah dari gerabah yang diolah ,hal ini karena efek penambahan pasir.
  Dari studi lempung Gowa  menunjukan hasil yang sama ,sehingga dapat dijadikan alternatif untuk perajin gerabah Takalar.

Kesimpulan
         Dari penelitian yang dilakukan:
1.     Bodi gerabah Takalar dengan  bahan baku yang tidak diolah terlebih dahulu memiliki kuat lentur kering serta kuat lentur gerabah hasil pembakaran pada suhu 800-1000ᵒ C yang Rendah.
2.     Pengolahan bahan lempung Takalar dengan pencampuran di dalam mixer  atau dengan penggilingan dalam pot mill selama 5 jam meningkatkan kuat lentur kering dan kuat lentur hasil pembakaran pada suhu 800-1000ᵒ C.
3.     Lempung Takalar dan Gowa yang telah diolah dibentuk dengan teknik putar.
4.     Gerabah dari bahan baku lempung Gowa melalui penggolahan dan penggilingan pot mill ataupencampuran dengan mixer menunjukan sifat-sifat keramik yang baik untuk pembakaran 800-1000ᵒ C.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar